PROGRAM KELUARGA HARAPAN

Meraih Keluarga Sejahtera

Intip Jejak Pendamping PKH, Ditengah Lekukan Jalur Terjal Batulanteh


Sumber : Nurhasim-Korwil PKH NTB
Posting : Admin An
Tanggal : 2020-06-22


Bagikan Berita

Sumbawa,-NTB
Pantang Pulang Sebelum Tuntas! Demikian sekelumit kalimat motivasi diri Pendamping Sosial Program Keluarga Harapan (PKH) Direktorat Jenderal Perlindungan Jaminan Sosial Kementerian Sosial. Motivasi tersebut mengiringi tugas sosial worker. Sasaran PKH menyasar sampai ke sudut Desa di Kecamatan Batulanteh Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dengan kondisi sosial yang menyeruak , salah satunnya dapat diintip melalui lekukan jalur rusak dan terjal penghubung Kota dan Desa, hingga mengintip jejak langkah pendamping Sosial mewarnainya.

Jika melirik realisasi penyaluran bansos PKH pada bula Juni 2020 di Kecamatan Batulanteh, sebanyak Rp.310.203.000 untuk 1.260 Keluarga Penerima Manfaat (KPM), Sedangkan total di Kabupaten Sumbawa Rp. 5.680.522.000, untuk 22.544 KPM. Artinya Kemensos hadir dalam memberikan jaminan sosial kepada keluarga pra sejahtera di 24 Kecamatan di Kabupaten Sumbawa, salah satunya Kecamatan Batulanteh.

Muhammad Isnaini SH adalah seorang Pendamping Sosial PKH di Kecamatan Batulanteh. Ia mendampingi 219 KPM tersebar di dua Desa yaitu Desa Baturotok dan Desa kelungkung. Jarak tempuh dari kediaman di Kota Sumbawa menuju dampingan Di Desa baturotok Kecamatan Batulanteh berjarak 95 KM. Ia bersama 4 rekannya selalu sigap dalam proses pendampingan dari mulai validasi awal calon peserta hingga sampai pada proses pendampingan pencairan bantuan.

Pria Kelahiran tepal tahun 1991 ini mengisahkan, dengan kondisi jalan yang rusak dan terjal terkadang menambah tantangan dalam tugas yang ditekuninya sejak resmi menjadi pendamping sosial pada tahun 2015. Jika dilakoni dengan sabar dan bijak, maka sesulit apapun tantangan yang dihadapi pasti ada jalan keluarnya. Sebagaimana proses perjalanan menuju lokasi dampingan, ia harus mengatur strategi, waktu, data bahan dan perlengkapan. Agar kebutuhan lapangan tidak tertinggal atau terlupakan. Sebab, waktu tempuh bisa mencapai 4-5 jam, itu-pun jika dalam kondisi musim kemarau. Namun, jika kondisi musim hujan, waktu tempuh bisa setengah hari. Bayangkan..?

“Dalam setiap waktu turun lapangan, terpaksa harus menginap di salah satu rumah warga setempat,” kisahnya dalam perbincangan senin malam melalui media whatsup. (22/6/2020)

Lebih lanjut kisah Isnaini sapaan karibnya, ada hal yang menarik di dalam pertengahan perjalan menuju lokasi tugas. Di saat musim hujan, tugas berdatangan dan harus siap dilaksanakan. Ia dengan semangat mengemban tugas itu tanpa berfikir panjang, seluruh perlengakapan “data dan bahan” disiapkan dengan matang, memanaje waktu dan kesiapan kendaraan. Saat itu pernah ditengah perjalanan di sekitar kaki bukit, di hadang air bah,  karena menuju lokasi dampingan harus melalui jalur sungai, manakala jembatan penghubung belum dibangun. Ia terpaksa harus menginap di tengah hutan. Beruntung saat itu, masih ada penduduk setempat yang bertani di sekitar lokasi bukit. Dengan penuh ramah berkenan menyiapkan ruas gubuk untuk berteduh dan  istrahat. Selanjutnya, hujan reda pada tengah malam, perjalanan dilanjut pagi harinya dimulai dengan seruput kopi tepal asli Batulanteh.

“Beruntung ada gubuk penduduk yang bertani di sekitar bukit, sebagai tempat berteduh. Bahkan ramah pula, di malam itu kami bercerita tentang Program PKH. Hitung-hitung sosialisai, hehhe” Kisahnya dengan candaan jejak langkahnya.

Alumni Fakultas Hukum UNRAM Tahun 2014 ini menuturkan, kondisi jalan tidak pernah berubah hingga sekarang. Ada beberapa kendala yang dihadapi, namun kendala tersebut ditunaikan secara bertahap dan tunai terbayarkan dengan keindahan dearah setempa. Batulanteh adalah kawasan pengahsil Kopi tepal. Kondisi perbukitan yang sejuk karena ditengah hutan. Kondisi ini menyatu dengan emosi sosialnya untuk memantik semangat warga penerima manfaat agar bisa lebih baik dari kondisi saat ini.

“Di setiap kegiatan P2K2, saya sendiri selalu memotivasi warga setempat dengan kerangka modul dan materi yang terukur. Ini menjawab keingiinan keras warga disana untuk mau berubah secara sosial dan eonomi,” Tutur Ayah dari Qiana Malaika Arisha ini

Sambung pria yang menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Sumbawa ini mengelaim, salah satu Lokasi KPM dampingannya di Dusun Kuang Rea Desa Baturotok lokasi sangat sulit bahkan belum ada aliran listrik. Sinyal baru masuk tahun 2018 itupun hanya seluler. Kondisi lainnya, ada beberapa Desa baru masuk listrik bantuan pemerintah  yaitu tenaga air ,lumayan kapasitas bisa menerangi rumah walau hanya menyala 12 jam/hari

“Kondisi ini menjadi salah satu kendala saya, saat validasi menggunaan Elektronik PKH (Epkh) online. Akan tetapi, tugas tetap jalan dengan tekhnis alternatif offline,” Timpal pemilik akun facebook Muhammad Isnaini Ali ini

Ia berharap banyak pada Pemerintah Daerah, Kecamatan Batulanteh segera di perbaiki Akses transportasinya menuju empat Desa didalamnya kurang lebih 20 Dusun. Fasilitas penerangan (Listrik),akses internet,agar bantuan pemerintah tidak terkendala tekhnis. Ia mencontohkan untuk mencairkan bantuan,  KPM harus mengeluakan ongkos transportasi lebih banyak ketimbang bantuan yag diterima. Seperti kondisi dari Desa Baturotok, jika menggunakan akses Kendaraan Roda dua harus merogok gocek hingga Rp. 400 ribu, karena jarak tempuh yang sangat jauh. Disisi Program, kecamatan Batulanteh bisa ditetapkan menjadi lokasi PKH akses.

“Bagaimana dengan KPM yang hanya 1 komponen SD misalnya, mendapatkan bantuan PKH Rp 75 ribu dalam sebulan di masa covid atau 225ribu per 3 bulan ? Tak sebanding dengan cost yg dikeluarkan,” Tandas Isnaini.

(Nurhasim-Korwil PKH NTB)