PROGRAM KELUARGA HARAPAN

Meraih Keluarga Sejahtera

Di Mana Ada Kemauan Di Situ Ada Jalan


Posting : Kurnia Angga, Dit Jaminan Sosial Keluarga
Tanggal : 2020-10-22


Bagikan Cerita

Saya ingin meningkatkan ekonomi keluarga,” ini menjadi kalimat pertama yang saya dengar dari Ibu Hasanah, pada suatu siang selepas Pertemuan P2K2 (Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga).

Ibu Hasanah adalah Penerima Bantuan PKH tahun 2009, yang berasal dari Kampung Cikaso Desa Cibanteng, Kabupaten Cianjur, sebuah desa pelosok ujung wilayah Cianjur yang berbatasan dengan Bogor. Saking pelosoknya daerah ini, hingga sinyal handphone pun enggan untuk berkunjung.

Hasanah, seorang Ibu berperawakan mungil namun lincah, seorang pribadi yang tidak banyak berbicara namun tekadnya luar biasa kuat, untuk menjadi orang yang lebih baik. Suaminya,  seorang buruh lepas di sebuah perkebunan. Penghasilan suaminya sebagai buruh lepas tidak bisa diharapkan, selain upah yang kecil, waktu kerjanya pun tidak jelas, terkadang ada pekerjaan, tapi lain waktu tidak ada yang bisa dikerjakan.

Di suatu siang, selepas Pertemuan P2K2 yang membahas Perencanaan Usaha, di rumah panggung Ibu Hasanah yang sangat sederhana, saya mengobrol bersamanya, Bu Hasanah bercerita tentang impian besarnya untuk memperbaiki ekonomi keluarga. Ia sangat menginginkan rumah yang lebih layak bagi anak-anaknya. Ia juga bermimpi ingin menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Ibu Hasanah sangat menyadari bahwa rendahnya pendidikan yang ia dan suami miliki menyebabkan mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

 Saya menyimak keluh kesahnya seksama, sesekali saya mengangguk, menyetujui  pemikirannya.

Sejujurnya, saat saya mendengarkan, saat itu pula hati berkecamuk, berpikir keras, apa yang bisa saya lakukan untuk mewujudkan mimpi Ibu Hasanah. Obrolan hari itu selesai, meski Saya belum bisa memberi solusi. Lalu saya pamit pulang.

Di atas motor dalam perjalanan pulang, saya berfikir keras, apa peran yang bisa dilakukan untuk membantu Ibu Hasanah. Hal yang pertama Saya lakukan adalah mencoba membuka komunikasi dengan beberapa teman, berharap ada teman di jejaring lain bisa membantu melalui pemberdayaan ekonomi keluarga. Namun rupanya usaha saya mencari informasi belum membuahkan hasil, momentum belum berpihak kepada kami.

Berselang 2 hari kemudian, saya kembali mengunjungi rumah panggung Ibu Hasanah. Kali ini saya datang ingin berbagi lebih dalam tentang keinginan Ibu Hasanah yang pernah diceritakan sebelumnya. Berbekal pengalaman membuka usaha yang Saya miliki, Kami kembali berdiskusi, berbicara potensi dan peluang apa saja yang dimiliki.

Pagi itu, saya awali obrolan dengan menceritakan kisah seorang sahabat Nabi Abdurrahman Bin Auf. Seorang sahabat yang tidak membawa apa-apa ketika hijrah namun pada akhirnya kita mengenal Abdurrahman Bin Auf menjadi seseorang yang sangat kaya raya. Saya ingin menguatkan bahwa telah banyak kisah berhasil dari banyak orang yang asalnya tidak memiliki apa-apa namun kini mereka menjadi pengusaha berhasil. Sampai akhirnya saya dan Ibu Hasanah mengambil kesimpulan harus segera memulai membuka usaha.

Saat itu, ada yang berbeda dari biasanya. Saya menyaksikan raut wajah Ibu Hasanah menjadi sangat antusias. Ia mengangguk-anggukan kepanya sambil tersenyum menandakan ia memahami apa yang saya sampaikan. Saya katakan kepadanya bahwa kunci sukses berdagang itu dimulai  bukan dipikirkan dan direncanakan terus menerus. Semakin banyak dipikirkan biasanya semakin jauh dieksekusi. Kumpulkan potensi yang dimiliki, sisihkan uang dengan menabung untuk persiapan modal, tak apa walau sedikit,” ucap Saya kala itu meyakinkan Bu Hasanah,

Rupanya Ibu Hasanah benar-benar melakukan apa yang disarankan. Ia mulai mengumpulkan peluang, membuat daftar ide, mulai menghitung perencanaan usaha, semua dilakukan dengan selalu berkordinasi dengan saya selaku pendamping.

Setelah mantap menetapkan usaha yang akan dibuka, Ia menyisihkan uang dari penerimaan dana PKH dan dari penghasilan suaminya. Sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya terkumpul dana awal dengan jumlahnya yang tidak besar, hanya Rp 150.000 saja. Lantas kemudian ia belanjakan uang itu untuk belanja beberapa peralatan sederhana dan bakso mentah, di daerah kami Jawa Barat mengenalnya dengan sebutan Baslub atau Bakso Kulub (Bakso Rebus).

Ia memulai dengan sesuatu hal yang kecil. Bakso itu, dijualnya seharga Rp 1.000 per buah. Ternyata perlahan tapi pasti banyak anak-anak di sekeliling rumah Ibu Hasanah menggemari dagangannya, hingga selalu habis apapun yang dijajakan Ibu Hasanah di warungnya. Tanpa terasa hasil jualan bakso Ibu Hasanah semakin hari semakin banyak dan ia pun bisa menyisihkan uang dengan cara menabung.

Perlahan namun pasti, setelah merasa usahanya berjalan, Bu Hasanah terpikir bagaimana caranya agar suaminya bisa mengikuti jejak dirinya, membuka usaha daripada menjadi buruh lepas yang digaji sangat kecil dan tak menentu.

Saya kembali diajak berdiskusi oleh Ibu Hasanah. Apa lagi yang bisa dilakukan agar suaminya bisa mengikuti jejaknya dalam memulai usaha. Kemudian, saya melakukan penggalian informasi untuk dijadikan bahan ide, sampai pada akhirnya menurut suami Ibu Hasanah ada potensi yang bisa mulai digarap yaitu mengumpulkan pisang mentah dari para petani dan tetangga kemudian dijual ke pasar di Kota.

Desa Cibanteng sudah lama dikenal sebagai penghasil pisang berkualitas. Akhirnya berbekal modal yang sangat kecil dari tabungan penghasilan warung, suami Bu Hasanah mulai membeli dan mengumpulkan pisang-pisang tetangga. Ketika dinilai cukup, Ia membawa pisang tersebut untuk dijual ke salah satu pasar di kota.

Kedua pasangan ini kini semakin kompak. Mereka adalah dua orang yang sangat ulet dan gigih dalam menjalankan usahanya. Impian Ibu Hasanah satu persatu mulai terwujud. Mereka mampu memperbaiki rumah, rumah panggungnya perlahan berubah menjadi rumah permanen.

Bagi saya ini merupakan kebahagiaan tersendiri, seakan membuktikan bahwa proses tidak akan pernah membohongi hasil. Perekonomiaan semakin membaik. Warung Ibu Hasanah makin hari makin membesar. Bu Hasanah, kini bukan lagi penjual bakso seperti dulu, kini Ia menambah barang-barang keperluan sehari-hari, menyediakan perlengkapan sekolah seperti seragam, kaos kaki, sepatu dan lain sebagainya.

Bahkan suaminya kini menjadi pemasok pisang tetap ke salah satu pasar di kota. Dampak usaha keluarga Ibu Hasanah bukan hanya dirasakan oleh keluarga. Tetangganya pun kini merasakan manfaat dengan manjadi karyawan di warung dan menjadi pengantar pisang. Bagaimana dengan keluarganya?. Anak Bu Hasanah, kini tercatat menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Cianjur yang juga memiliki bisnis Potong Rambut.

Alhamdulillah, kini semua impian Ibu Hasanah telah terwujud satu persatu. Saya terus membersamai Ibu Hasanah, terus berdiskusi mencari cara agar usahanya semakin membesar. Yang paling membahagiakan adalah ketika Ibu Hasanah dan suami akhirnya mampu memindahkan warungnya ke pinggir jalan strategis dengan bangunan yang permanen.

Pelahan tapi pasti saya melihat keluarga Ibu Hasanah kini sudah membaik ekonominya dan harus segera di Graduasi Mandiri. Awalnya ragu dan bingung bagaimana  menyampaikannya. Di suatu pagi, kembali saya mengunjungi rumahnya dan kali ini obrolan kami bukan lagi tentang bagaimana mengembangkan usaha. Saya mengarahkan Ibu Hasanah untuk Graduasi Mandiri. Saya mencari pilihan kata yang tepat, mencari celah momentum yang tepat, agar proses graduasi berjalan sesuai harapan. Saya memberikan pemahaman bahwa tugas pendamping, adalah memberdayakan KPM, agar bisa lepas dan mandiri dan tidak selamanya bergantung pada bantuan PKH.

Di luar dugaan, ketika saya menyampaikan aturan Graduasi dengan detail, Ibu Hasanah beserta suami berlinang air mata. Mereka berterima kasih telah ditunjuki jalan menemukan bidang usaha yang tepat sebagaimana yang mereka impikan selama ini. Mereka sangat ikhlas bila harus graduasi agar orang lain bisa mendapat giliran menjadi peserta PKH. Bu Hasanah akhirnya menjadi peserta pertama Graduasi Mandiri pada tahun 2018. Total aset usahanya kini sudah mencapai Rp 150.000.000.Banyak hal yang bisa menjadi pelajaran dari kisah Ibu Hasanah. Kekuatan tekad untuk berubah dan berdaya menjadi pondasi kokoh yang menggerakkan. Tekad ini menggerakkan pikiran dan seluruh potensi yang dimiliki untuk segera bergerak. Teruslah mendampingi karena ada banyak Hasanah-Hasanah lain, yang sedang menanti untuk berdaya, mandiri dan sejahtera, disituh sebagai Pendamping PKH kita juga sukses dan bahagia karena dampak yang timbul dari usaha pendampingan tak kenal lelah yang telah kita perjuangkan. “Di Mana Ada Kemauan Di Situ Ada Jalan!

 

Novie Setyabhakti-Cianjur