PROGRAM KELUARGA HARAPAN

Meraih Keluarga Sejahtera

“Dagang Rombengan” Naik AVP


Posting : Kurnia Angga
Tanggal : 2020-12-23


Bagikan Cerita

“Pekerjaan  yang saya lakukan ini ini mungkin terlihat rendah, tapi ini membuat saya hidup dan bisa makan,” Ungkap Komang Trastri, Penerima PKH 2010-2019. Komang Tastri adalah salah satu peserta PKH di Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, yang dengan suka rela mengundurkan diri dari kepesertaan PKH di Tahun 2019. Beliau merupakan sosok inspiratif yang mampu bangun dari keterpurukan jeratan kemiskinan. Berkat usaha dan kerja kerasnya bersama suami, usaha jual beli pakaian bekas layak pakai yang mereka tekuni kini telah berkembang. “Beruntung saya mendapat bantuan PKH, bantuan itu saya gunakan untuk keperluan anak-anak sekolah. Dengan begitu, saya bisa mengatur hasil penjualan untuk modal dagangan. Saya juga mendapat banyak ilmu tentang mengatur keuangan keluarga dan usaha melalui pertemuan kelompok P2K2. Ibu Pendamping memberikan banyak informasi dan cara bagaimana kami mengatur keuangan. Bersyukur sekali saya pernah menjadi bagian dari PKH,” Jelas Komang Tastri.

“Dagang Rombengan” itulah yang melakat dalam diri Komang Tastri. Perempuan kelahiran Tahun 1960 ini menggeluti usaha jual beli pakaian bekas layak pakai sejak Tahun 1987. Saat itu, kondisi ekonomi keluarganya sangat terpuruk. Dia dan suaminya tidak memiliki pekerjaan, beberapa hari keluarga ini tidak bisa makan. Diam-diam, Komang Tastri menjual satu persatu baju anak-anaknya agar anaknya bisa makan. “Anak saya menangis saat mengetahui bajunya tidak ada. Saya sangat merasa bersalah saat itu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Dari kondisi itulah, Komang Tastri dan Made Steno, suaminya, mendapat inspirasi untuk membuka usaha jual beli pakaian bekas layak pakai. Dia berjalan kaki mengetuk pintu dari rumah satu ke rumah lainnya. “Malu iya, tapi karena rasa malu ini saya bisa makan. Kenapa harus gengsi?,” kata Ibu 4 orang anak itu. Pakaian bekas yang dia beli tidak langsung dia jual. Dalam satu kresek yang dia beli, ada saja yang sudah using, robek, dan tidak layak pakai. Beruntung Komang Tastri memiliki keahlian menjahit. Pakaian bekas itu dia permak kembali dan dicuci sehingga saat dijual layak pakai. Kisaran harganya pun Rp.5.000,00-Rp 20.000,00 perbaju sesuai dengan jenis dan kondisi barang.

Usaha Komang Tastri sempat jatuh saat peristiwa BOM Bali Tahun 2003. Saat itu sepi pembeli dan orang yang menjual pakaian bekas juga sedikit. Dia tak lantas berpangku tangan menunggu situasi ekonomi pulih kembali. Dia bahkan nekat untuk mencari barang dagangan di sentral penjualan pakaian bekas di luar Kabupaten. Pasar Kodok, Tabanan, Bali dan Pasar Gembong Surabaya. Sistemnya beli karungan dan barangnya import. “Barangnya lebih bagus, saya bisa jual lebih mahal,” pikirnya saat itu. Tapi ternyata, karena kurang pengetahuan mengenai merek dagang dan kode yang tertera dalam karung, dia merugi besar. “Sudah ada kode-kode di luar karung. Saya tidak mengerti. Barang yang ada dalam karung tidak sesuai dengan keiinginan dan sulit dijual,” terangnya. Tahun 2008, Komang Tastri kembali ‘memulung’ dari rumah ke rumah. Dengan bermodal sepeda motor buntunya dia menuju satu rumah ke rumah lainnya. Mereka menjajakan barang dagangannya pun dari rumah ke rumah. Tidak ada lokasi berjualan karena sewa tempat mahal. “Memang kendala hujan biasanya kami menjadi lebih repot mencuci pakaian ini kembali. Kalo kehujanan, baunya agak apek nanti, biasanya kami cuci lagi,setrika lagi,” Kata Komang Tastri. Beruntung dia mendapat warisan mobil carry dari sanak saudaranya. Itu sangat membantu usahanya. “Bisa membawa banyak barang dagangan, dan barang tidak kehujanan. Meski jalannya tak semulus mobil lainnya,” katanya sambil tertawa. Selain dari rumah ke rumah, terkadang dia dan suaminya membagi tugas dan pisah tempat jualan. Komang Tastri dari rumah ke rumah, sementara suaminya dipinggir jalan membuka dagangannya. Lokasinya di daerah pedesaan yang jauh dari kota. “Kalo di Kota tidak laku, gengsi orang beli. Kalo di desa, lebih laku, apalagi dalam kondisi seperti ini,” tuturnya. Barang yang dia beli selalu ada rijek dan itupun bisa dia jual namun sistemnya pakai borongan dan harga lebih murah. Yang tidak layak pakai biasanya dia jual kembali untuk bengkel-bengkel digunakan sebagai lap. “Jadi barang yang saya beli tidak ada yang terbuang,” kata Komang Tastri. Omsetnya kini mencapai Rp 5 juta-Rp 8 juta perbulannya. Dia mengaku, dalam masa Pandemi seperti sekarang, usaha yang dia geluti juga sekaligus untuk membantu sesama yang tidak mampu. Beberapa orang tidak memiliki penghasilan dan terpaksa menjual barang miliknya meski dengan harga murah. “Kalau ada yang menjual, selalu saya beli. Karena saya juga mengalami hal yang sama dulu,” katanya. Sekarang usahanya sudah berkembang. Komang Tastri mengajak beberapa ibu-ibu di beberapa wilayah untuk mengumpulkan dan membeli baju bekas dari beberapa warga di sekitarnya. Mendukung usahanya, Komang Tastri mampu membeli I unit mobil AVP yang dia gunakan untuk jual beli pakaian bekas.

Komang Tastri mengaku sangat bersyukur pernah menjadi Peserta PKH. Selama kurang lebih 9 tahun Komang Tastri menerima bantuan dari pemerintah sejak Tahun 2010 hingga 2019. Bantuan PKH khusus digunakan untuk membantu biaya sekolah anak-anaknya. Salah satu anak perempuannya kini telah lulus kuliah sekolah pariwisata dan telah bekerja. Komang Tastri mengaku banyak belajar dari kegiatan pertemuan kelompok, P2K2 (Pertemuan Peningkatan Kemampuan Keluarga)/FDS yang diikutinya setiap bulan. “Senang sekali kalau pertemuan kelompok. Saya berlajar banyak hal mengelola keuangan keluarga, dan usaha. Ibu Pendamping juga memberikan solusi dan mengajak kami untuk memulai usaha dan bagaimana mengembangkannya. Termasuk solusi-solusi dari kendala menjalanan usaha,” tuturnya. Komang Tastri mengundurkan diri secara suka rela dari kepesertaan PKH di Tahun 2019. Dia dan suaminya merasa kondisi ekonominya sudah lebih baik dan ingin memberikan kesempatan kepada yang lebih membutuhkan agar dapat terbantu oleh pemerintah masuk dalam kuota kepesertaaan PKH.

 

Sumber: Ni Putu Yaniek Aprintya Dewi, SH - Pendamping Sosial PKH Kabupaten Buleleng, Bali